Kamis, 17 Januari 2013

PENDIDIKAN FORMAL BUKAN FAKTOR UTAMA UNTUK SUKSES


Pendidikan Formal Bukan Faktor Utama Untuk Sukses

Pendidikan formal memang penting dan persyaratan untuk penerimaan pegawai, anggota DPRD, DPR dan berbagai posisi, baik pemerintahan maupun perusahaan, syarat minimal pendidikan formal setiap zaman berubah, semakin tinggi untuk sebuah posisi yang sama levelnya.  50 tahun lalu, disebuah kabupaten, bisa saja lulusan diploma, merupakan orang  terpandai di kabupaten tersebut dan bisa menjadi bupati.  Saat ini di kota yang sama, untuk melamar pegawai administrasi atau tukang kebun sekolah, minimal lulusan diploma.


Pendidikan formal memang penting, namun saya mau mengatakan bahwa itu bukan faktor mutlak.  Masih ada berbagai bidang kehidupan, dimana hal yang lain lebih diutamakan sebagai pertimbangan, berapa yang akan diberikan kepada orang tersebut, bukan karena gelarnya tetapi karyanya, misal untuk seorang pelukis, animator atau design grafis

      Salesman, atau jaringan MLM, diberi komisi bukan berdasarkan ijasahnya atau gelarnya, tetapi berapa banyak ia berjualan.  Walaupun hanya lulusan SMA jika mampu menjual lebih banyak dari mereka yang sarjana, si-SMA tetap akan naik lebih cepat kariernya dan mendapat lebih banyak komisi.  Berdagang di Mangga Dua ataupun di Mall,  sebagai tenant dan menyewa ruangan, tidak pernah akan ditanyakan pedidikan formal, atau sebuah peraturan “Lulusan SMA dilarang membuka outlet di Mall

Tentu saja, saudara yang bukan seorang master atau doktor jangan melamar dan berkarier sebagai dosen, tetapi dalam kehidupan ini ada ribuan peluang dan ribuan jenis pekerjaan, dimana pendidikan formal tidak akan menjadi batas.

Pendidikan bukan batas untuk sukses, meraih prestasi tertinggi, bahkan bukan halangan untuk seseorang mendapat jodoh dan menikah, kecuali orang itu sendiri yang berpikir demikian.

Liem Swie Liong, atau Sudono Salim, berusia 22 tahun merantau ke Indonesia,  tidak memiliki gelar pendidikan formal.  Sekarang semua orang tahu, dialah boss, pemilik BCA Group, Indo-group, Salim Group, bahkan dengan mendirikan perusahaan investasi di Hongkong, Singapura dan China, beliau sudah menjadi salah satu orang terkaya di Asia.

Presiden Habibie memang profesor yang sangat pandai, Susilo Bambang Yudhoyono lulusan terbaik TNI dan mengambil doktor di IPB dan Soekarno adalah insinyur yang pada zaman itu masih langka.  Namun Soeharto bukan sarjana dan Megawati tidak pernah lulus kuliah.  Namun mereka meraih prestasi tertinggi dan pernah menjadi orang nomor satu di Indonesia.  Mereka adalah orang yang berpikir, bahwa pendidikan formal bukanlah halangan untuk sukses.

Jika halangan itu masih ada di pikiranmu, robek, patahkan dan tembuslah batas itu.  Selain kecerdasanIntellectual, masih ada ‘Kinesthetic Intelligence’; kemampuan seseorang menggerakkan tubuhnya dengan tepat, yang karenanya Rudy Hartono sukses dan terkenal.  ‘Spacial  Intelligence’ kemampuan seseorang berkreasi, berfantasi, seni yang membuat Rudy Hadisuwarno sukses sebagai pemotong rambut, hairstylist dan akhirnya bisnis produk kosmetik serta membuka ratusan cabang salon dengan sistem franchise Rudy Kairudin sukses karena hobynya memasak, mereka bukanlah orang yang pandai secara akademik sewaktu sekolah, tetapi mereka bertiga, semuanya RUDY, orang yang sukses.  Tidak selesai pendidikan formal bukan halangan untuk sukses.

Kepandaian intellectual, pendidikan formal, menurut penelitian Prof Dr. Daniel Golleman, hanya mempengaruhi 20% keberhasilan seseorang.  Justru kecerdasan emosi dan spiritual yang mempengaruhi 80%.  Apapun gelarmu dan tingkat pendidikan formal yang engkau miliki, engkau bisa sukses dan berhasil, jika baik hati, gigih, ulet, tekun, tabah, pandai bergaul, memiliki citra diri yang baik (self image) dan bisa menguasai emosi (self controll) serta memiliki integritas (characters).

0 komentar: