Pendidikan Formal Bukan Faktor Utama Untuk Sukses
Pendidikan formal memang penting dan persyaratan untuk penerimaan pegawai,
anggota DPRD, DPR dan berbagai posisi, baik pemerintahan maupun perusahaan,
syarat minimal pendidikan formal setiap zaman berubah, semakin tinggi untuk
sebuah posisi yang sama levelnya. 50 tahun lalu, disebuah kabupaten, bisa
saja lulusan diploma, merupakan orang terpandai di kabupaten tersebut dan
bisa menjadi bupati. Saat ini di kota yang sama, untuk melamar pegawai
administrasi atau tukang kebun sekolah, minimal lulusan diploma.
Pendidikan formal memang penting, namun saya mau mengatakan bahwa itu bukan
faktor mutlak. Masih ada berbagai bidang kehidupan, dimana hal yang lain
lebih diutamakan sebagai pertimbangan, berapa yang akan diberikan kepada orang
tersebut, bukan karena gelarnya tetapi karyanya, misal untuk seorang pelukis,
animator atau design grafis.
Salesman, atau jaringan MLM, diberi komisi
bukan berdasarkan ijasahnya atau gelarnya, tetapi berapa banyak ia
berjualan. Walaupun hanya lulusan SMA jika mampu menjual lebih banyak
dari mereka yang sarjana, si-SMA tetap akan naik lebih cepat kariernya dan
mendapat lebih banyak komisi. Berdagang di Mangga Dua ataupun di
Mall, sebagai tenant dan menyewa ruangan,
tidak pernah akan ditanyakan pedidikan formal, atau sebuah peraturan “Lulusan SMA dilarang membuka outlet di Mall”
Tentu saja, saudara yang bukan seorang master atau doktor jangan melamar
dan berkarier sebagai dosen, tetapi dalam kehidupan ini ada ribuan peluang dan
ribuan jenis pekerjaan, dimana pendidikan formal tidak akan menjadi batas.
Pendidikan bukan batas untuk sukses, meraih prestasi tertinggi, bahkan
bukan halangan untuk seseorang mendapat jodoh dan menikah, kecuali orang itu
sendiri yang berpikir demikian.
Liem Swie Liong, atau Sudono Salim,
berusia 22 tahun merantau ke Indonesia, tidak memiliki gelar pendidikan
formal. Sekarang semua orang tahu, dialah boss, pemilik BCA Group,
Indo-group, Salim Group, bahkan dengan mendirikan perusahaan investasi di
Hongkong, Singapura dan China, beliau sudah menjadi salah satu orang terkaya di
Asia.
Presiden Habibie memang profesor yang
sangat pandai, Susilo Bambang Yudhoyono lulusan terbaik TNI
dan mengambil doktor di IPB dan Soekarno adalah insinyur yang
pada zaman itu masih langka. Namun Soeharto bukan sarjana dan Megawati tidak pernah lulus kuliah. Namun mereka meraih
prestasi tertinggi dan pernah menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Mereka adalah orang yang berpikir, bahwa pendidikan formal bukanlah halangan
untuk sukses.
Jika halangan itu masih ada di pikiranmu, robek, patahkan dan tembuslah
batas itu. Selain kecerdasanIntellectual, masih ada ‘Kinesthetic Intelligence’; kemampuan seseorang menggerakkan tubuhnya dengan
tepat, yang karenanya Rudy Hartono sukses dan
terkenal. ‘Spacial Intelligence’ kemampuan seseorang
berkreasi, berfantasi, seni yang membuat Rudy
Hadisuwarno sukses sebagai pemotong rambut, hairstylist dan akhirnya bisnis
produk kosmetik serta membuka ratusan cabang salon dengan sistem franchise. Rudy Kairudin sukses karena hobynya memasak, mereka bukanlah orang yang pandai secara akademik sewaktu
sekolah, tetapi mereka bertiga, semuanya RUDY, orang yang sukses. Tidak
selesai pendidikan formal bukan halangan untuk sukses.
Kepandaian intellectual, pendidikan formal, menurut penelitian Prof Dr. Daniel Golleman, hanya mempengaruhi 20% keberhasilan
seseorang. Justru kecerdasan emosi dan spiritual yang mempengaruhi
80%. Apapun gelarmu dan tingkat pendidikan formal yang engkau miliki,
engkau bisa sukses dan berhasil, jika baik hati, gigih, ulet, tekun, tabah,
pandai bergaul, memiliki citra diri yang baik (self image) dan bisa menguasai emosi (self controll) serta memiliki
integritas (characters).

0 komentar:
Posting Komentar